Pemetaan Kerentanan Kebakaran Hutan dan Lahan di Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan
DOI:
https://doi.org/10.24815/riwayat.v9i1.771Keywords:
Pemetaan, Hotspot, Kerentanan, Karhutla, Banjar.Abstract
BPBD Provinsi Kalimantan Selatan mencatat Kabupaten Banjar dengan jumlah kejadian kebakaran tertinggi ke dua setelah Kabupaten Kotabaru di Kalimantan Selatan, yaitu sebanyak 1.106 kejadian selama 5 tahun terakhir dari tahun 2019 sampai dengan 2023. Tujuan penelitian ini adalah untuk memetakan sebaran titik hotspot dan menganalisis tingkat kerentanan kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Banjar periode 2020-2024. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan analisis spasial menggunakan software ArcGIS 10.8 untuk pemetaan sebaran titik hotspot dan kerentanan kebakaran hutan dan lahan. Hasil penelitian menunjukan bahwa tahun 2020-2024 terdapat 743 sebaran hotspot yang dominan terjadi pada bulan September, kecamatan yang paling banyak mengalami kejadian kebakaran hutan dan lahan dalam rentan 5 tahun yaitu Kecamatan Cintapuri Darussalam dengan 182 titik sedangkan kecamatan dengan sebaran hotspot paling sedikit ada pada Kecamatan Martapura, Sambung Makmur dan Telaga Bauntung terdapat 3 sebaran hotspot saja. Kecamatan dengan kerentanan tinggi seperti Cintapuri Darussalam, Telaga Bauntung, Mataraman, Paramasan, Simpang Empat, dan Sambung Makmur sangat rentan terhadap dampak kebakaran hutan dan lahan yang menyebabkan kerusakan lingkungan signifikan yang berdampak pada sektor perkebunan, pertanian dan ekonomi lokal. Kecamatan dengan kerentanan sedang, seperti Astambul, Karang Intan, Pengaron, dan Sungai Pinang, mengalami dampak serupa, meski dalam skala yang lebih kecil, dengan kerugian pada hasil pertanian dan perkebunan. Sementara itu, kecamatan dengan kerentanan rendah seperti Aluh-Aluh, Beruntung Baru, dan Kertak Hanyar, meskipun masih terpapar karhutla, dapat lebih cepat pulih dengan dampak ekonomi dan sosial yang lebih ringan, namun tetap berisiko terhadap kerusakan lingkungan.





