Sejarah Perkembangan Ilmu: Relasi Agama dan Sains

Authors

  • Imam Bahauddin Universitas Al-Falah As-Sunniyyah Kencong Author
  • Zamzami Universitas Al-Falah As-Sunniyyah Kencong Author
  • Ahmad Universitas Al-Falah As-Sunniyyah Kencong Author
  • Asnawan Universitas Al-falah Assunniyah kencong, Author

Keywords:

Integrasi keilmuan, Agama dan sains, sejarah ilmu pengetahuan, Sejarah ilmu

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara historis dan filosofis relasi antara agama dan sains dalam lintasan sejarah perkembangan ilmu pengetahuan. Latar belakang kajian ini berangkat dari perdebatan panjang antara paradigma keagamaan dan paradigma ilmiah yang sering dianggap berlawanan, padahal dalam konteks sejarah Islam klasik keduanya justru menunjukkan hubungan yang harmonis dan integratif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif dengan pendekatan historis dan filosofis. Data dikumpulkan melalui studi pustaka terhadap karya-karya klasik dan kontemporer yang relevan, seperti Al-Kindi, Ibnu Sina, Al-Farabi, Al-Ghazali, hingga pemikir modern seperti Ian G. Barbour, Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Ismail Raji al-Faruqi, dan Seyyed Hossein Nasr. Hasil penelitian menunjukkan bahwa relasi antara agama dan sains mengalami tiga pola utama: (1) integratif pada masa peradaban Islam klasik, di mana wahyu dan akal dipandang saling melengkapi; (2) konflik pada masa modern Eropa yang ditandai oleh sekularisasi ilmu dan marginalisasi nilai-nilai spiritual; serta (3) rekonstruktif pada era kontemporer, ketika muncul kembali kesadaran akan pentingnya dialog dan integrasi antara keduanya. Temuan ini memperlihatkan bahwa konflik antara agama dan sains bukanlah keniscayaan epistemologis, melainkan hasil dari perubahan paradigma dan konteks sosial tertentu. Penelitian ini menyimpulkan bahwa model relasi ideal antara agama dan sains adalah dialogis dan integratif, di mana agama berfungsi memberikan landasan moral dan tujuan spiritual bagi sains, sementara sains memperkaya pemahaman manusia terhadap tanda-tanda kebesaran Tuhan. Dengan demikian, paradigma integratif-tauhidik dalam Islam dapat menjadi dasar konseptual bagi pembangunan ilmu pengetahuan modern yang beretika, berkeadilan, dan berorientasi pada kemaslahatan manusia.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Al-Attas, S. M. N. (1995). Prolegomena to the Metaphysics of Islam. Kuala Lumpur: ISTAC.

Al-Faruqi, I. R. (1982). Islamization of Knowledge: General Principles and Workplan. Herndon: IIIT.

Barbour, I. G. (1990). Religion in an Age of Science. New York: HarperCollins.

Brooke, J. H. (1991). Science and Religion: Some Historical Perspectives. Cambridge: Cambridge University Press.

Crombie, A. C. (1959). Medieval and Early Modern Science. London: Harvard University Press.

Draper, John William. (1875). History of the Conflict between Religion and Science. D. Appleton and Company.

Kuhn, T. S. (1962). The Structure of Scientific Revolutions. Chicago: University of Chicago Press.

Nasr, S. H. (1987). Science and Civilization in Islam. Cambridge: Harvard University Press.

Nasr, S. H. (1996). Religion and the Order of Nature. Oxford: Oxford University Press.

Saliba, G. (2007). Islamic Science and the Making of the European Renaissance. MIT Press

Downloads

Published

2026-01-10

How to Cite

Sejarah Perkembangan Ilmu: Relasi Agama dan Sains. (2026). International Journal Of Social Issues and Multidisiplinary Studies, 2(1), 152-156. https://ejournal.yaydi.com/index.php/ijosim/article/view/107