Pengalaman Subjektif Istri Paman (Puhun): Studi Fenomenologi Makna Kebersyukuran dan Kecemasan dalam Tradisi Pemamanen Suku Alas
DOI:
https://doi.org/10.24815/riwayat.v9i1.379Keywords:
Pemamanen; Puhun; Kebersyukuran; Kecemasan; Fenomenologi Interpretatif (IPA)Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam pengalaman subjektif istri paman (puhun) dalam tradisi pemamanen Suku Alas di Aceh Tenggara, khususnya terkait makna kebersyukuran dan kecemasan yang mereka alami. Pemamanen merupakan sistem kekerabatan adat yang menempatkan paman sebagai figur sentral dalam acara khitanan dan pernikahan, namun dalam praktik kontemporer menimbulkan beban finansial dan sosial yang signifikan bagi keluarga paman, termasuk puhun. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) untuk menggali lived experience puhun melalui wawancara mendalam terhadap tiga partisipan yang dipilih secara purposive dan snowball. Analisis data dilakukan melalui tahapan membaca berulang, initial noting, pengembangan tema emergen, serta penyusunan struktur tema lintas kasus. Hasil penelitian mengidentifikasi tiga tema utama, yaitu beban finansial multidimensi, kecemasan sosial dan stres peran, serta kebersyukuran sebagai strategi koping dan pemaknaan. Temuan menunjukkan adanya dualitas emosional berupa kecemasan terhadap marwah keluarga dan tuntutan pelawat, sekaligus rasa syukur sebagai bentuk bakti, penerimaan adat, dan pemeliharaan kohesi sosial. Puhun berperan sebagai manajer risiko di balik layar yang mengatur pendanaan dan logistik acara, sering kali hingga berutang. Secara keseluruhan, pengalaman puhun dimaknai sebagai pengorbanan yang dimuliakan dalam bingkai identitas budaya Alas. Penelitian ini berkontribusi pada kajian psikologi budaya dan memberikan implikasi praktis bagi evaluasi kebijakan adat.





