Representasi Sistem Pendidikan Dan Kondisi Sosial Dalam Film Pengepungan Di Bukit Duri(Studi Analisis Semiotika Charles Sanders Pierce)
DOI:
https://doi.org/10.24815/riwayat.v9i1.219Keywords:
Pendidikan,kondisi sosial,pengepungan di Bukit DuriAbstract
Film sebagai bentuk karya seni dan hiburan favorit seiring dengan perkembangan teknologi, mampu menyajikan kisah dan pesan secara multidimensi melalui integrasi unsur visual, audio, dan naratif. Salah satu contohnya adalah film Pengepungan di Bukit Duri karya Joko Anwar (rilis 2025), yang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga memuat makna tersembunyi yang menggambarkan luka sosial dan trauma sejarah kekerasan di Indonesia, sekaligus memiliki tujuan edukatif untuk mendorong masyarakat memprioritaskan pendidikan, menekan angka kekerasan sosial, dan menghapus praktik diskriminasi. Penelitian ini mengadopsi pendekatan kualitatif dengan melibatkan berbagai teknik pengumpulan data, termasuk menonton film secara intensif, wawancara dengan teman sejawat, observasi, pencatatan mendalam, dokumentasi, serta studi kepustakaan untuk memperkuat kerangka teoretisnya. Selanjutnya, analisis dilakukan secara mendalam menggunakan teori semiotika Charles Sanders Peirce, yang berfokus pada interpretasi tanda melalui kategori ikon, indeks, dan simbol. Hasil penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa Pengepungan di Bukit Duri berfungsi sebagai media penyampai pesan yang mendalam mengenai pentingnya pendidikan bagi kelangsungan hidup bangsa, yang secara eksplisit terlihat melalui representasi diskriminasi, kekerasan di lingkungan sekolah, dan isu ketidakadilan dalam sistem pendidikan, yang keseluruhannya mencerminkan realitas sosial yang masih relevan di tengah masyarakat.


