Strategi Janda Muda Dalam Bertahan Hidup Dan Dampak Status Janda Muda Bagi Perempaun
DOI:
https://doi.org/10.24815/riwayat.v9i1.230Keywords:
Jandamuda, bertahan hidup, perempuanAbstract
Penelitian ini membahas strategi bertahan hidup dan dampak sosial yang dialami janda muda di Kecamatan Polewali, Kabupaten Polewali Mandar. Latar belakang penelitian menunjukkan bahwa tingginya angka perceraian di Polewali Mandar, yaitu 667 kasus pada tahun 2024, memunculkan fenomena janda muda sebagai permasalahan sosial yang kompleks. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, di mana informan dipilih secara purposive sampling dengan kriteria perempuan berstatus janda muda berusia 18–30 tahun, memiliki durasi pernikahan 0–5 tahun, dan tercatat sebagai cerai gugat di Pengadilan Agama Polewali Mandar.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa janda muda menerapkan tiga strategi utama dalam memenuhi kebutuhan hidup pasca perceraian, yaitu strategi aktif (bekerja, membuka usaha, dan memanfaatkan teknologi digital), strategi pasif (berhemat dan bergantung pada dukungan keluarga), serta strategi jaringan (menggunakan hubungan sosial, keluarga, dan komunitas untuk memperoleh dukungan finansial maupun emosional). Temuan ini menunjukkan bahwa para janda muda bersifat adaptif dan rasional dalam menghadapi kondisi baru.
Dari sisi sosial, status janda muda membawa dampak signifikan berupa stigma negatif, pengucilan, gosip, dan keterbatasan dalam pergaulan. Stigma tersebut menyebabkan tekanan psikologis dan penurunan rasa percaya diri, meskipun beberapa janda muda tetap mendapat dukungan keluarga dan komunitas. Dalam perspektif teori pilihan rasional Coleman, keputusan muda janda untuk mengadopsi strategi tertentu dan mengurangi interaksi sosial dipandang sebagai bentuk kalkulasi logistik guna mencapai stabilitas hidup dan melindungi kesejahteraan anak.
Keywords:jandamuda


